6/07/2020

Gubernur Sumbar Minta Injil Berbahasa Minang Dihapus


Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengatakan, persoalan Injil berbahasa Minangkabau bukan masalah intoleran dengan agama lain, melainkan masalah adat dan budaya Minangkabau.

Irwan mengatakan, adat Minangkabau memiliki falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, sehingga adat dan budaya itu melekat pada agama Islam.

"Ini bukan persoalan intoleran, tapi masalah adat dan budaya Minangkabau," kata Irwan kepada Kompas.com, Minggu (7/6/2020) di Kantor Gubernur Sumbar.

Baca juga: Gubernur Minta Aplikasi Injil Bahasa Minang Dihapus, Kadis: yang Tidak Mengerti Jangan Ikut Komentar

Irwan mencontohkan masalah adat dan budaya itu dengan kegiatan Nyepi di Bali ketika semua orang harus menghormatinya dengan berdiam diri di rumah dan tidak menyalakan lampu.

"Siapa pun harus menghormatinya di Bali itu. Begitu juga dengan Minangkabau dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Jangan diprovokasi," kata Irwan.

Menurut Irwan, dengan telah hilangnya aplikasi tersebut dari Google Play Store, diharapkan masyarakat Minangkabau tidak terprovokasi dengan menjaga kerukunan umat beragama.

"Kan sudah hilang. Jadi, kita minta masyarakat jangan terprovokasi dan menjaga kerukunan umat beragama," kata Irwan.

Sebelumnya diberitakan, akibat adanya keresahan dari masyarakat Sumatera Barat terhadap adanya aplikasi kitab suci Injil berbahasa Minangkabau, Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Irwan Prayitno mengirim surat ke Menteri Komunikasi dan Informatika.

Surat dengan Nomor 555/327/Diskominfo/2020 tertanggal 28 Mei 2020 tersebut berisi tentang permintaan penghapusan Aplikasi Kitab Suci Injil Minangkabau.

Surat tersebut ternyata menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, terutama di media sosial.

Menanggapi itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Sumbar Jasman Rizal menyebutkan  pihak yang kontra dengan permintaan itu belum mengerti falsafah orang Minangkabau.

“Bagi yang bernada negatif, mereka tidak paham dengan falsafah orang Minangkabau yaitu Adat Basandi Syara’-Syara’ Basandi Kitabullah, atau mereka tidaklah orang Minangkabau," kata Jasman Rizal yang dihubungi Kompas.com, Jumat (5/6/2020).

Baca juga: Soal Injil Bahasa Minang, Kepala Dinas Kominfo Sumbar Minta Masyarakat Tak Terprovokasi

Menurut Jasman, adat Minangkabau itu didasarkan pada syariat, dan syariat itu didasarkan pada kitab Allah, yaitu Al Quran.

"Itu konsep dasar berpikir orang Minangkabau. Artinya, orang Minangkabau adalah penganut Islam dan jika ada yang mengaku sebagai orang Minangkabau tetapi tidak muslim, secara adat tidak diakui sebagai orang Minangkabau,” jelas Jasman.

Menurut Jasman, setiap daerah punya kearifan lokal masing-masing, dan ada daerah yang kearifan lokalnya berkaitan dengan latar belakang religi, Sumbar adalah salah satu contohnya.

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post