5/17/2020

20 Tahun Tinggal Di Hutan, Kesetiaan Pada Indonesia Eks Warga Tim-tim ini Bertepuk Sebelah Tangan


Sejarah antara Indonesia dengan Timor Leste yang dulu masih bernama Timor Timur memang sempat diwarnai ketegangan. Peperangan yang terjadi antar kedua belah pihak di masa lalu, memaksa rakyat terbelah pilihan antara pro kemerdekaan dan berdaulat penuh sebagai negara mandiri, atau pro integrasi menjadi bagian dari NKRI.

Di antara orang-orang yang berada pada situasi tersebut, ada sosok Ratu Alas-Manufahi, Azia Borromeu yang memilih untuk ikut dengan Indonesia atau pro integrasi. Sayang, kesetiaannya itu seakan kurang mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia. Ratu Azia pun harus berlapang dada tinggal di tenda beratap terpal dan berdinding daun kelapa.

Hidup dan tinggal di penampungan sederhana selama 20 tahun lamanya
Keputusan besar telah diambil oleh Azia Borromeu dengan memilih ikut Indonesia usai jajak pendapat pada tahun 1999. Bersama dengan rakyatnya, ia berharap negara yang dipilihnya itu memberikan jaminan hidup dan kecukupan. Sayang, hal tersebut seolah menjauh dari kehidupannya.


Ratu Azia Borromeu 
Anak dari Raja Alexandrino Borromeu selaku Tokoh Apodeti Penandatanganan Petisi Balibo itu, sebelumnya menempati lahan milik pemerintah sebagai tempat tinggal, yakni kamp pengungsian LP3T, Sukabitetek, Desa Leuntolu, Kecamatan Raimanuk bersama eks warga Tim-tim lainnya.

Memilih tinggal di hutan sebagai bentuk protes pada pemerintah
Sejak integrasi pada 1999 silam, baik Ratu Azia maupun warga eks Tim-tim lainnya merasa bahwa kesetiaan mereka memilih Indonesia seolah bertepuk sebelah tangan. Sebagai bentuk protes, ia pun memilih tinggal di hutan bersama rakyatnya dengan tenda darurat beratap terpal dan dinding daun kelapa.

Tinggal di tenda dengan terpal plastik sebagai aksi protes terhadap pemerintah [sumber gambar]
Aksi yang dilakukan juga bertepatan dengan peringatan Integrasi Timor-Timur ke Indonesia sejak tanggal 17 Juli 1975 hingga saat ini, sekaligus mengenang 5 tahun meninggalnya Raja Alexandrino Borromeu.

Menangis meminta pemerintah agar memperhatikan nasib mereka
Sosok Ratu Azia Borromeu sempat menjadi sorotan lantaran videonya yang memohon pada pemerintah Indonesia sambil menangis, viral di sosial media. Ia merasa bahwa selama ini dirinya dan eks warga Tim-tim lainnya kurang diperhatikan. Terutama soal kepastian nasib dan tempat tinggal mereka.

Sebagai Ratu dan anak dari seorang Raja, ia rela tinggal di tenda sederhana bersama dengan rakyatnya agar pemerintah mau memperhatikan aspirasinya. Bahkan, terus memilih tinggal di sana dan tetap berjuang hingga ada kejelasan soal nasib dan rakyatnya.

Kisah Ratu Azia setali tiga uang dengan warga eks Timor-Timor lainnya
Ratu Azia Borromeu bukanlah satu-satunya yang merasakan sakitnya kesetiaan pada negara yang seolah bertepuk sebelah tangan. Banyak dari warga eks Tim-tim lainnya yang juga merasakan hal serupa. Hidup terimpit kondisi yang memprihatinkan di daerah perbatasan antara Timor Leste dan Nusa Tenggara Timur (NTT).


Sejatinya, banyak dari mereka yang merasa bangga dan menaruh harapan besar terhadap Indonesia yang dipilih sebagai tanah tumpah darahnya. Namun hingga kini, niat mulia tersebut seakan diuji oleh kondisi mereka yang tak kunjung berubah. Padahal, sudah 74 tahun Indonesia merdeka dan 20 tahun Timor Timur dilepaskan.

Pada saat referendum di tahun 1999 dilangsungkan, seketika itu pula masyarakat yang terlibat dihadapkan pada pilihan sulit karena menyangkut masa depannya masing-masing. Mereka yang rela meninggalkan tanah kelahirannya demi kesetiaan pada Indonesia, seakan bertepuk sebelah tangan karena ditelantarkan pemerintah. Seperti yang dialami Ratu Azia Borromeu dan kebanyakan warga eks Tim-tim lainnya. Semoga setelah ini, pemerintah bisa lebih mendengar suara mereka. (Sumber)
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post