5/29/2020

Mengenang Ayam Tanpa Bulu, Rekayasa Genetika Paling Kurang Ajar



Berita tentang ayam tanpa bulu pertama kali muncul pada 2002. Selain mengejutkan banyak mata akan penampilannya, ayam tanpa bulu juga menyulut amarah para kritikus terhadap ilmuwan pembuatnya. Meskipun si ilmuwan mengatakan bahwa rekayasa genetika ini menguntungkan petani dan hewan bersangkutan, tetapi kritikus yakin semua usaha konyol itu betul-betul kekejaman yang termotivasi oleh keserakahan.

Perekayasanya ialah Avigdor Cahaner, profesor genetika di Universitas Hebrew Jerusalem, Israel. Ia pertama kali mengembangkan ayam tanpa bulu dengan mulai membiakkan ayam broiler yang tidak berbulu pada lehernya. Kemudian, sebagai hasilnya, muncullah keturunan-keturunan ayam yang tidak berbulu pada seluruh tubuhnya.

Cahaner meyakini, gagasan di balik pengembangan ayam telanjang itu demi kebaikan. Rekayasa genetika tersebut akan menciptakan kenyamanan untuk ayam demi hidup di negara-negara beriklim hangat. Tanpa bulu, para peternak tidak perlu mengandalkan sistem pendingin yang mahal dan tidak terjangkau secara umum.

"Bulu adalah limbah" ucapan Cahaner dilansir oleh The New York Times. Keturunan ayam tanpa bulu akan tumbuh lebih cepat, karena mereka tidak perlu menggunakan energi untuk menumbuhkan bulu. Sebaliknya, energi akan digunakan ayam untuk tumbuh lebih besar. Berlanndaskan fakta inilah, Cahaner menganggap bulu ialah kesia-siaan semata: "Ayam-ayam itu menggunakan pakan untuk menghasilkan sesuatu yang harus dibuang."

Alasan lainnya, tentu saja, manusia tidak perlu memetik bulu-bulu ayam ketika hendak mengolah dagingnya. Langkah ini akan sangat menghemat waktu dan biaya.

Di pihak lain, penentang gagasan Cahaner sama sekali tidak terkesan dan menilai bahwa rekayasa genetika semacam itu sama sekali tidak menguntungkan hewan. Semua itu hanya untuk keuntungan manusia. Pada kenyataannya, rekayasa genetika Cahaner justru cenderung membuat hidup ayam menjadi lebih buruk.

"Apakah mereka benar-benar peduli dengan kenyamanan burung-burung itu?" tentang Zvika Ritter, dosen biologi di Universitas Haifa-Oranim, meragukan niatan Cahane dan ide gilanya, dikutip dari Haaretz. "Ini tampaknya benar-benar masalah uang semata, untuk memberi makan dunia dengan pengeluaran minimum dan hasil produksi maksimum, dan mereka (hanya) ingin burung-burung itu bertahan hidup sampai disembelih."

Ayam jantan yang tidak berbulu tidak dapat kawin, karena mereka tidak mampu mengepakkan sayapnya untuk keseimbangan (saat hendak menunggangi betina). Lantaran tidak berbulu, baik jantan atau betina, ayam lebih rentan terhadap parasit, penyakit kulit, serangan nyamuk, variasi suhu, dan sengatan panas Matahari.

Patut disyukuri, oleh para penentang rekayasa genetika tersebut, setelah ramai diperdebatkan pada 2002, kabar tentang ayam telanjang tanpa bulu segera meredup beberapa waktu kemudian. Usaha ilmuwan Cahaner tidak pernah berkembang biak secara baik untuk dunia komersial.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post