5/08/2020

Inilah 5 Pengusaha Dunia yang Tambah Kaya Raya karena Adanya Wabah Virus Corona



Kekayaan yang bertambah hingga puluhan triliun dari bisnis kesehatan di tengah pandemi Covid-19
Wabah virus corona (Covid-19) yang dianggap telah menghantam sektor perekonomian, ternyata memiliki pengaruh berbeda kepada para pengusaha yang bergerak di bidang kesehatan. Banyak dari perusahaan yang mereka jalankan mengeruk keuntungan yang luar biasa di tengah lesunya perekonomian dunia akibat Covid-19.

Bahkan sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)menyatakan Covid-19 sebagai pandemi global pada 11 Maret lalu, keuntungan yang diperoleh oleh para pengusaha tersebut meningkat secara drastis secara bertahap. Siapa sajakah mereka? Simak ulasan Boombastis yang dilansir dari Forbes berikut ini.

Pengusaha Li Xiting yang kaya raya berkat penjualan alat kesehatan


Pengusaha alat kesehatan (alkes) Li Xiting yang berasal dari Tiongkok ikut merasakan untung di tengah wabah corona. Perusahaan Mindray Medical International yang berbasis di Shenzen yang dirintisnya sejak 1991, kini telah menjadi produsen peralatan medis terbesar di Tiongkok.

Saat Covid-19 muncul pertama kali di Wuhan, perusahaannya aktif memerangi pandemi tersebut dengan melipatgandakan kapasitas produksi ventilator di pabrik Shenzhen menjadi 3.000 buah dalam sebulan. Berkat kenaikan tersebut, kekayaannya bertambah sebesar 1 persen menjadi US$ 12,6 miliar (Rp 190 triliun).

Gustavo Denegri luncurkan alat tes swab yang dibutuhkan masyarakat


Sosok Gustavo Denegri sedari awal memang memiliki latar belakang sebagai ahli kimia profesional. Lewat perusahaan bioteknologi Italia, DiaSorin, yang dibeli oleh dirinya pada tahun 2000 silam, menjadikan Denegri sebagai miliarder berkat alat tes diagnostik berbasis swab dan alat tes darah antibodi untuk Covid-19.

Bahkan, tes antibodi hasil penelitian terbarunya yang diluncurkan pada bulan April, kini tengah didistribusikan ke beberapa pemerintah daerah di Italia. Selain di negeri Pizza tersebut DiaSorin memiliki cabang di Amerika Serikat (AS) dan Jerman. Berkat bisnisnya, kekayaan Denegri pun naik sebesar 32 persen menjadi US$4.5 miliar (Rp 67 triliun).

Konglomerat medis Alain Meìrieux yang semakin kaya raya


Konglomerat medis Alain Meìrieux diuntungkan berkat perusahaan BioMérieux, sebagai cabang pengujian diagnostik dari Institut Mérieux, sebuah perusahaan medis ternama yang didirikan oleh kakek Mérieux, Marcel, di tahun 1897. Berdiri pada 1963, BioMérieux memproduksi alat pengujian diagnostik Covid-19 yang dirilis pada akhir Maret.

Alain Merieux berhasil menambah pundi-pundi kekayaan lewat BioMerieux
Kit pengujian BioMérieux tergolong berbeda dari alat uji kebanyakan karena mampu memotong waktu pengujian untuk virus menjadi 45 menit. Jelas, hal ini menjadi terobosan penting yang sangat dibutuhkan untuk melawan Covid-19. BioMérieux yang kini dijalankan oleh putranya, Alexandre, meraih total pendapatan bersih yang naik 25 persen menjadi USD 7,6 miliar (Rp 114 triliun) selama pandemi.

Investasi menguntungkan duo pengusaha kembar di perusahaan pembuat obat


Dua pengusaha kembar, Thomas Struengmann dan Andreas Struengmann berhasil meraih keuntungan yang signifikan selama masa pandemi corona berlangsung. Sebelumnya, kekayaan mereka dimulai saat menjual perusahaan pembuat obat generik Hexal ke Novartis dengan harga sekitar $ 7 miliar pada tahun 2005.

Dari sana, keduanya kemudian berinvestasi di sebuah perusahaan bernama BioNTech yang bekerjasama dengan fizer PFE dan Fosun Pharmaceuticals, dengan membuat vaksin untuk Covid-19. Percobaan pertamanya dilakukan pada seorang pasien di Jerman pada 23 April lalu. Dari sini, keduanya mengalami kenaikan jumlah kekayaan sebesar 11 persen dengan total US$6,9 miliar (Rp 103 triliun).

Maja Oeri yang diuntungkan dari perusahaan farmasi warisan keluarga


Sebagai keturunan dari Fritz Hoffmann-La Roche, pendiri raksasa farmasi yang berbasis di Swiss Roche, Maja Oeri juga mengeruk keuntungan yang signifikan dari bisnis turun temurun keluarganya tersebut. Pada 19 Maret, Roche sedang memulai uji klinis fase ketiga dari obat radang sendi tocilizumab untuk pasien Covid-19 di Amerika Serikat.

Perusahaan tersebut juga mengembangkan tes serologi baru yang mendeteksi antibodi pada orang yang sudah memiliki penyakit, dan berencana diluncurkan di AS hingga Eropa pada awal Mei. Berkat bisnis dari Roche, kekayaan Oeri naik sebesar 10 persen menjadi US$3,2 miliar (Rp 48 triliun).

Di luar bidang kesehatan, pendiri aplikasi Zoom Eric Yuan yang berasal dari Tiongkok juga mengalami kenaikan jumlah kekayaan di tengah wabah corona. Dilansir dari Business Insider Singapore (01/04/2020), ia telah menghasilkan hampir US$ 4 miliar (Rp 60 triliun) dalam 3 bulan dari lonjakan pemakaian Zoom untuk berkomunikasi, imbas kebijakan Stay at home atau di rumah saja yang diberlakukan oleh pemerintah.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post