5/09/2020

Ditengah Pandemi Corona, Pasutri di Karimun Memilih Hidup Dengan Cara Ini



Pandemi virus corona telah menjadi momok menakutkan bagi masyarakat dunia. Hampir 200 negara telah terjangkit virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, ibukota Hubei, Cina. Sejak merebaknya virus yang kemudian dikenal corona virus disease 2019 (covid-19), maka banyak negara memberlakukan warganya untuk tetap tinggal di rumah (stay at home).

Kebijakan untuk tetap berada di rumah itu, juga diberlakukan di Indonesia. Semua orang tetap berada di rumah, mereka berkumpul bersama keluarga tercinta. Menjalani semua aktivitas di rumah.

Di tengah kepanikan warga soal corona, ternyata pasangan suami-istri di Karimun ini melakoni jalan berbeda. Mereka menjalani kehidupan dengan cara yang tak biasa.

Agustya Sandi (45) dan istrinya Susi Wijayanti (41) memilih memisahkan diri ke tengah hutan. Mereka menetap dalam beberapa hari di kawasan hutan di ujung utara Pulau Karimun Besar. Di tengah lebatnya hutan belantara, pasangan ini hanya membawa bekal untuk makan dan minum secukupnya.

Di atas gugusan batu cadas dengan tebing yang curam, Sandi dan Susi memutuskan menjalani hidupnya dalam beberapa hari ke depan. Mereka berdua kemudian membangun tungku batu untuk perapian. Tak ada korek api ataupun mancis. Untuk menghidupkan api, mereka hanya menggunakan pemantik api.

Pemantik api tersebut digesekan dengan sebilah pisau, sementara dibawahnya sudah disiapkan kain arang dan rabuk (serbuk kayu kering). Begitu pemantik api mengeluarkan bunga-bunga api langsung disambut oleh kain arang. Bunga api yang menempel di kain arang kemudian ditiup hingga mengeluarkan asap dan menjadi api.

Untuk tidur, mereka tidak membutuhkan tenda, hanya bergantung di dalam hammock yang dikaitkan diantara dua batang pohon kayu. Hampir semua perkakas yang mereka bawa ke tengah hutan merupakan peralatan sederhana. Bahkan, boleh dibilang kembali ke zaman primitif. Cara-cara hidup yang mereka jalani dikenal dengan istilah bushcraft.

Bushcraft adalah keahlian bertahan hidup di alam bebas yang mempelajari hal-hal mendasar dari survival seperti mendapatkan air dan makanan, membuat hunian, menyalakan api, navigasi, sinyal, membuat peralatan untuk mempermudah hidup seperti pisau, tombak, alat masak dan juga mencakup pengetahuan tanaman untuk obat-obatan.

“Saat corona ini mulai mewabah, semua orang berdiam diri di rumah. Kami lebih memilih tinggal beberapa hari ini di hutan,” ujar Agustya Sandi.

Dirinya menyebut, hutan telah memberikan keseimbangan hidup bagi manusia. Semua kebutuhan makhluk hidup tersedia disana. Asalkan ada sumber mata air, maka manusia bisa bertahan hidup. (Sumber)
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post